14 February 2017

Pergeseran Budaya Dalam Acara Hajatan Pernikahan Di Kabupaten OKU

Setiap daerah memiliki budaya acara pernikahan yang berbeda – beda dan itu merupakan sebuah kekayaan yang patut kita syukuri.

PERGERSERAN BUDAYA DALAM ACARA  HAJATAN PERNIKAHAN DI KABUPATEN OKU
Budaya dalam konteks atau yang berkaitan dengan acara hajatan pernikahan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Khususnya di Pedesaan sudah mengalami pergeseran.

Hal ini saya perhatikan dan amati dari waktu saya masih remaja hingga dewasa sekarang ini.

Budaya apa yang mulai bergeser dalam hal acara hajatan pernikahan ?........

Yuk….simak artikel ini……….

1.    KHANTAUAN


Budaya atau tradisi khantauan di daerah Pedesaan waktu saya masih remaja, kira – kira 15 tahun silam masih dipakai.


Khantauan adalah sebuah acara untuk mengumpulkan orang didesa untuk membahas sebuah persiapan suatu acara hajatan pernikahan.


Intinya adalah sebuah Musyawarah untuk melancarkan sebuah acara hajatan pernikahan dan akan dilakukan secara bergotong –royong.


Tetapi sekarang ini sudah tidak dipakai lagi dan digantikan dengan system langsung tulis  siapa – siapa petugas untuk membantu acara hajatan pernikahan tersebut.


Lalu hasil tulisan tersebut dibagikan ke pada orang – orang yang bertugas.


2.    FHOTO – FHOTO


Sesi fhoto – fhoto memang dalam sebuah acara hajatan pernikahan memang dari dahulu sudah ada.


Tetapi yang menjadi juru fhoto / fhotografernya adalah tuan rumah itu sendiri dan tidak dibayar atau disewa.


Sedangkan………zaman sekarang ini, tuan rumah lebih menggunakan jasa fhotografer sewaan.


Tentunya ini sebuah pergeseran budaya…dari awalnya hanya mencari tukang fhoto gratis..lalu menyewa Tukang Fhoto berbayar.



3.    MEMBERI WARNA KUKU PENGANTIN


Saya masih ingat betul, dalam sebuah acara hajatan pernikahan ada malam khusus untuk memberi warna kuku pengantin.


 Sehingga siang harinya muda – mudi sibuk mencarai bahan – bahan alami untuk membuat warna kuku pengantin.


Dan pada malam harinya bahan – bahan tersebut diolah beramai – ramai oleh muda dan mudi.


Lalu bahan alami pewarna kuku tersebut ditempelkan ke kuku sepasang pengantin tersebut.


Tetapi sekarang ini sudah jauh berbeda……….


Karena tidak lagi menggunakan cara tradisional untuk memberi warna kuku pada pengantin.


Melainkan sudah membeli warna kuku yang banyak tersedia di Toko – Toko.


Dan untuk menempelkan warna kuku tersebut tidak menghadirkan banyak muda – mudi lagi, hanya dua atau tiga orang saja.



4.    WAJIK


Wajik adalah makanan dari beras ketan yang sudah diolah secara khusus untuk diberikan kepada keluarga mempelai wanita.


Wajik ini mirip dengan dodol, tetapi bentuk beras ketan tidak sehalus dodol.


Zaman orang tua saya menikah, pemberian wajik ini sangat memukau baik dalam bentuk dan jumlahnya.


Waktu dulu wajik di isi di dalam kaleng  yang berbobot 5 kg dalam jumlah sampai 500 kaleng.


Tapi………zaman sekarang ini sudah mengalami penghematan,yaitu hanya dibungkus dengan Plastik kecil yang berbobot paling berat 1 kg dan dalam jumlah hanya 100 buah.


Plastik kecil tersebut seperti wadah buah kurma yang banyak dijual dipasar.


Jadi pergeserannya lebih pada ukuran dan jumlahnya.


Demikianlah artikel singkat ini dibuat semoga bermanfaat, jika ada kesalahan pada ide dan Penulisan saya mohon maaf.

0 komentar

Post a Comment