01 November 2016

Pengalaman Bekerja Di Perkebunan Sawit Yang Masih Saya Ingat Sampai Sekarang

PENGALAMAN KERJA DI PERKEBUNAN SAWIT YANG MASIH SAYA INGAT SAMPAI SEKARANG

Pengalaman bekerja di kebun sawit merupakan pengalaman yang sangat bermanfaat sekali buat kehidupan saya.Nah pada artikel kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan nasib hidup saya yang mengantarkan saya pada pekerjaan yang penuh tantangan tersebut.


Setelah tamat sekolah menengah umum,sebenarnya saya lama juga mengganggur kira – kira dua tahun lamanya.Walaupun menganggur saya juga mengambil pekerjaan serabutan,seperti bekerja sebagai tukang bongkar pasang tenda, bekerja bangunan, juga menyadap karet.


Setelah sekian lama bekerja serabutan, saya menjadi jemu juga hingga pada suatu hari saya mencoba bekerja pada sebuah perkebunan sawit.Proses diterima bekerjanya begitu mudah,sebab ada keluarga saya yang bekerja diperkebunan sawit tersebut.


Letak tempat saya bekerja sangatlah jauh sekali dari rumah , kalau dihitung dengan jam maka sekitar sepuluh jam, itu juga baru sampai diperumahan kebun tersebut.Perumahan tersebut adalah tempat para karyawan tinggal selama bekerja dikebun tersebut.


Saya pertama kali masuk kedalam perkebunan itu pada saat musim hujan, jadi sudah terbayang bahwa jalanan tidak semulus jalan aspal.Karena waktu itu saya ikut dengan kakak mengendarai motor, jadi kami harus sering berhenti sebab ban motor banyak sekali ditempeli oleh lumpur sehingga laju motor tidak bisa cepat.


Setelah tiba diperumahan saya mulai mencoba menyesuaikan diri dengan orang – orang disekeliling perumahan tersebut.Saat malam hari saya tidak bisa begitu nyenyak tidur sebab,saya deg – deg’an sekali karena ini adalah pengalaman pertama saya bekerja pada sebuah perusahaan.


Esok harinya saya mulai bekerja diperkebunan sawit tersebut sebagai asisten mandor, keren bukan .??hehe,,kalau menurut ukuran saya jabatan tersebut terbilang keren dan sangat membuat saya senang, sebab saya meniti karir dikebun tersebut tidak perlu dari nol besar.


Pada hari pertama kerja saya ikut Traktor Gandeng yang membawa pupuk, saya sebenarnya masih binggung saya dibawa kemana pada saat itu.Karena jarak tempat atau areal tempat saya bekerja sangat jauh sekali sekitar 20 km tapi karena naik kendaraan jadi tidak begitu terasa. 


Diperjalanan dalam mengawal pupuk tersebut tidak begitu mulus karena beberapa kali, harus ditarik oleh traktor lainnya sebab rodanya terbenam didalam lumpur.Setelah berjuang dengan keras akhirnya pupuk yang  dibawa oleh traktor sampai dilokasi.


Pada hari pertama kerja, saya hanya menonton orang bekerja saja, sebab saya belum dikasih tahu harus bagaimana atau apa –apa saja yang saya lakukan.


Sepertinya pekerjaan memupuk begitu mudah pikir saya dahulu, tinggal buka karung lalu ditabur.Saya coba memperhatikan jumlah pekerjanya, hanya sekitar 7 orang dengan total pupuk sekitar 3 ton.Jumlah yang diangkut waktu itu termasuk kecil sebab, jalan yang akan dilalui tidaklah memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan yang bermuatan diatas 3 ton.


Kalau tidak salah untuk menabur pupuk tiga ton tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam, dan lebih diutamakan pada tanaman sawit yang sudah dibersihkan rumputnya.


Pupuk yang kami taburkan adalah pupuk untuk pertumbuhan pohon, sawit yang kami pupuk pun sangat kecil – kecil sekali.Sebelum pukul sebelas siang pekerjaan memupuk sawit pun kelar dan kami pun pulang.


Pulangnya pun kami terpaksa jalan kaki sebab, kendaraan yang kami tumpangi tersebut harus melakukan pekerjaan untuk memuat sawit – sawit.Jarak antara perumahan dan tempat saya bekerja pada hari pertama sangatlah jauh sekali, sehingga membuat kaki saya capek sekali sehabis berjalan.


Tetapi untunglah diperjalanan ada tumpangan, sehingga cukup menghemat tenaga saya.Diperumahan tempat saya bekerja kami masak secara bergotong royong ,biasanya kami bon dahulu bahan makanan diwarung lalu akhhir bulan kami bayar secara bersama – sama.


Kami masak seadanya tergantung stok yang ada di warung, ada ikan maka ikan kami masak, ada sayur kubis maka sayur kubis yang kami masak.Pokoknya kalau pulang dari bekerja makan kami sangat lahap sekali.


Pada malam hari badan saya terasa capek sekali, karena bekerja yang saya lakoni lebih banyak berjalan kaki.Tidur saya pun sangat lelap sekali,kami tidur lumayan sedikit berhimpitan sebab satu kamar kami diisi oleh sekitar tujuh orang.Tetapi itu tidak mempengaruhi rasa nyaman kami untuk tidur, kalau badan capek kami cepat sekali tidur dengan pulas.


Besok hari pun saya dan teman –teman harus bangun pagi untuk bekerja kembali dan begitulah seterusnya.


Bekerja dikebun sawit memiliki tingkat kejenuhan kalau kita terlalu lama berada diperumahannya,sebab apa yang kita lihat hanyalah batang –batang sawit yang berhamparan.Tetapi ada sisi baiknya juga kalau kita tinggal dilingkugan pohon sawit yaitu udara yang sejuk dan nyaman.


Kalau saya lagi bete atu lagi bosan berada dikebun sawit terus, maka saya coba  jalan – jalan ke desa yang dekat dengan perkebunan tempat kita tinggal.Saya mencoba bergaul dan mengenal budaya mereka.


Selama bekerja dikebun sawit saya belum bisa mengendarai motor, tapi kalau bersepeda saya sudah pandai.Pernah suatu ketika Kepala mandor saya menyuruh saya membawa sepeda motornya, saya terpaksa dan agak malu harus mengatakan bahwa saya belum bisa mengendarai motor.Malu sekali saya pada waktu itu.


Hingga dalam hati saya harus bertekad untuk bisa dalam mengendari sepeda motor,walaupun untuk belajar bermotor saya masih binggung harus belajar pakai motor siapa.


Saya bekerja pada perkebunan sawit sekitar tiga tahun lamanya, banyak pengalaman yang saya dapatkan terutama teknik membersihkan areal sawit dan cara memupuk. Karena kebetulan saya asisten mandor dalam bidang perawatan tanaman sawit.


Hal yang paling menguras tenaga saya adalah saya harus pergi berjalan kaki menuju tempat saya bekerja yang jaraknya sekitar 5 – 20 km, lumayan jauh.paling – paling jika ada traktor yang lewat saya ikut menumpang atau menumpang motor teman yang kebetulan lewat.


Akan tetapi kalau musim hujan tiba, kami bekerja di kebun sawit harus berjalan kaki, sebab kendaraan tidak masuk keareal.Jalanan pada musim hujan lumayan berlumpur sehingga akan memperhambat laju kendaraan.Biasanya hanya ada traktor yang lewat tetapi sudah banyak penumpangnya.


Setelah pulang kerja saya sering lewat kantor tempat saya bekerja, dalam hati saya sangat iri sekali dengan karyawan yang berkerja dikantor, sebab pada musim hujan atau tidak musim hujan mereka yang ada dikantor aman – aman saja.


Beda sekali dengan saya, jika musim hujan saya harus melalui jalan yang berlumpur belum lagi harus terkena hujan, baik berangkat kerjanya atau pulang kerjannya.


Begitupun dengan musim kemarau saya harus berpanas – panas,pernah saya sakit gara – gara saya terlalu capek berjalan kaki ditambah dengan terik matahari yang cukup panas.Pada saat saya kerja dikebun sawit itu, masuk angin adalah penyakit langganan saya.


Masuk tahun ke tiga perusahaan tempat saya bekerja harus dijual ke perusahaan lainnya, sehingga pesangon kami mulai dibayarkan.Saya mendapatkan  pesangon yang kecil sekali,Cuma dua bulan gaji, betul – betul tidak memuaskan hati saya, tetapi saya coba syukuri saja, mungkin inilah rezeki saya.


Setelah pesangon kami dari perusahaan perkebunan itu dibayarkan kami pun resmi berhenti dari perkebunan sawit itu.Setelah itu saya pun mulai menganggur dan mencoba mencari pekerjaan ke tempat lain.


Demikianlah cerita atau kisah singkat saya selama saya bekerja disebuah perkebunan sawit.Jika ada Ide atau Penulisan yang salah saya mohon maaf.

0 komentar

Post a Comment