19 May 2017

Kejujuranku Di Uji Dengan Uang Lima Puluh Ribu Rupiah

Saat menerima kembalian uang yang lebih dari pemilik toko, jantungku berdegub kencang dan ada pergolakan bhatin antara ingin curang dan ingin jujur.


Kejujuranku di uji dengan uang lima puluh ribu rupiah



Betapa tidak saat menerima uang kembalian waktu service motor, uang yang diberikan oleh pemilik toko tersebut lebih lima puluh ribu rupiah.


Awalnya ceritanya…….


Rantai motor sudah kendor dan saya menggunakan jasa tambal ban untuk mengencangkannya, namun ada baut yang tidak bisa ia perbaiki.


Sehingga motor saya seret ke bengkel motor terdekat, sekalian untuk ganti oli padahal saya lagi ingin berhemat namun apa daya.


Setelah di bengkel motor saya tanya berapa total yang akan saya bayar dan pemilik toko itu mengatakan sebesar Rp.44.000,- untuk menganti baut dan service oli motor.


Maka dengan cekatan saya keluarkan uang lima puluh ribu rupiah yang memang sudah saya pisahkan di dalam dompet dan uang pun berpindah tangan dengan syah ke pemilik dompet.


Sekitar 30 detik kemudian maka, pemilik toko itu meletakan uang kembalian di atas meja etalase dan langsung pergi.


Melihat jumlah uang yang di letakkan sekitar Rp.56.000,- rupiah untuk saya, maka saya pun menjadi heran dan berpikir “ kok uang nya 56.000 rupiah ! seharusnya saya menerima kembalian Cuma 6000 rupiah “.


Saya pun lantas mengecek ulang uang yang ada didompet saya,”  jangan – jangan tadi saat membayar saya memberikan uang 100 ribu rupiah” pikir saya waktu itu.


Setelah saya cek uangnya tetap aman di dalam dompet itu artinya saya tidak memberikan uang sejumlah 100 ribu rupiah.


Maka pergolakan bhatinpun terjadi antara ingin mengambil semuanya dan ingin mengembalikan saja uang yang bukan hak saya itu.


Dalam beberapa detik pergolakan masih terjadi di dalam tubuh saya, seperti tejadi perang antara kejujuran dan kecurangan di dalam tubuh saya.


Jika saya ambil itu artinya saya mendapat service oli dan baut gratis dari toko tersebut serta uang saya tidak berkurang.Toh pemilik toko tidak mengetahuinya dan tidak akan bangkrut gara – gara kehilangan uang lima puluh ribu rupiah.


Karena saya yakin uang sejumlah itu akan mudah ia dapatkan, karena tokonya cukup besar dan banyak pelanggan.


Namun……. jika tetap diambil itu artinya saya sudah berbuat curang dan sudah tentu catatan dosa saya akan bertambah.


Saya pun berpikir jernih……untuk apa saya mengambil hak orang lain, toh uang tersebut akan habis juga dan akan menyisakan kenangan ketidak jujuran dan dosa saja buat saya.


Karena ketakutan berbuat tidak jujur inilah sehingga akhirnya saya kembalikan saja uang lima puluh ribu tersebut ke pemilik toko.


Setelah pulangnya saya menjadi lega hati….karena ujian ke jujuran ini bisa saya lewati tanpa menyisakan kenangan penyesalan.


Uang Halal bisa datang darimana saja, namun ke jujuran butuh sebuah kekuatan Iman dan perjuangan.


Sekian.




4 komentar:

  1. Yep.. jempol kang. Bahkan dalam saat sesusah apapun kita, jangan sampai makan hak yg bukan milik kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupzz,,,betul sekali Pak.....soalnya pasti akan selalu terbayang2 terhadap perbuatan kita itu sendiri.

      Delete
  2. Wah kejujuranya membuahkan hasil tuh kang...
    Jadi ada iklan adsensenya... Pasti berkah kejujuran sama berkah bulan ramadhan..
    Selamat - selamat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mksih atas ucapannya Mas...

      mmmm....benar Kata Mas Ahmad....berkah Kejujuran dan berkah di Bulan Ramadan.....semoga Akunnya Adsensenya juga menjadi berkah dan Langgeng.AMIN

      Delete