26 Oktober 2016

Kisah Saya Menyambung Hidup Setelah Berhenti Bekerja Di Perkebunan Sawit

KISAH SAYA MENYAMBUNG HIDUP SETELAH BERHENTI BERKERJA DI PERKEBUNAN SAWIT

Menyambung Hidup
- Pada tahun 2003 saya pernah berkerja di perkebunan sawit dan berhenti pada tahun 2006.Saya berhenti bukan karena saya bekerja tidak baik, tetapi perusahaan perkebunan tempat kami bekerja ,dijual ke pihak lain.Sehingga struktur management menjadi berubah.Perubahan tersebut membuat posisi saya juga berubah, disamping itu pihak perusahaan perkebunan lebih mengutamakan pekerja dari luar daerah dan pekerja – pekerja baru.


Saya tidak begitu memusingkan apa yang terjadi pada perusahaan perkebunan tempat saya bekerja dahulu.Yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya saya mendapat pekerjaan kembali sehingga saya bisa menghasilakan uang.Maklum uang pesangon yang saya dapat sudah mulai menipis dan sepertinya akan mulai habis pada waktu itu.


Saya pun mencoba membantu paman saya dalam berjualan dan memanen kopi dikebun dan hasil atau upahnya bisa saya gunakan untuk ongkos saya ke Palembang, tempat Kakak sepupu saya.


Kenapa Kota Palembang menjadi tujuan saya,sebab Kota Palembang adalah harapan saya ,satu – satunya.Sekitar dua minggu saya masih menganggur sehingga pada minggu ketiga saya ada tawaran bekerja pada toko Mebel, milik teman kakak saya.


Lokasi atau tempat toko mebel tersebut lumayan jauh dari rumah sekitar 2 jam perjalanan, sebenarnya saya hanyalah pekerja sementara sebab pekerja tetapnya sedang libur.Tugas saya bekerja ditoko mebel tersebut sangatlah mudah,yaitu saya hanya duduk didepan toko menunggu kalau ada pembeli yang datang baru saya layani.


Produk Mebel yang  ada di Toko tempat saya bekerja lebih di dominasi oleh lemari dari pada produk lainya seperti kursi. Lemari –lemari tersebut dibuat dari rumah produksi yang ada dipalembang milik empunya toko.


Biasanya saya pagi – pagi sekali sudah bangun, kalau kesiangan saya bisa malu dengan pemilik toko yang juga tinggal ditempat tersebut.Pukul Tujuh saya sudah duduk di depan toko, kalau siangnya saya disuruh istirahat dan makan.


Rata – rata penjualan toko mebel tersebut satu produk dalam sehari,rata – rata yang banyak orang beli adalah lemari.Yang paling unik adalah lemari tersebut diangkut dengan sepeda motor yang diletakkan diatas jok motor.


Teknik yang digunakan oleh ojek lemari ini adalah dengan menempatkan lemari tepat ditengah jok motor,sambil mengira – ngira keseimbangannya lalu diikat dengan sebuah tali yang kuat.Kira – kira seperti itulah caranya yang saya lihat sendiri.


Waktupun berjalan dan saya hanya bekerja selama dua minggu,sebab pekerja yang sedang libur tersebut akan mulai bekerja kembali.Saya pun harus menganggur kembali dengan modal gaji dari menjaga toko mebel,saya sangat sedih sekali sebab kenapa nasib hidup saya harus menganggur berulang – ulang.


Karena saya tidak punya harapan lagi untuk bekerja di kota Palembang, maka saya memutuskan untuk pulang kampung saja.Dikampung pun saya mencoba membuat kegiatan kreatif seperti mengoles rumah dengan cat, cat tersebut saya beli dari uang hasil kerja saya,walau tidak cukup memuaskan tetapi lumayanlah bisa membuat warna rumah saya sedikit menarik.


Hari – hari pun berlalu dan saya memutuskan untuk bekerja serabutan yaitu bekerja sebagai petani karet,saya pikir itu lebih baik saya kerjakan dari pada saya menganggur dan tak menghasilkan uang.


Sebagai petani karet saya harus bangun pagi – pagi dari biasanya, sekitar pukul 05.00, sebab pukul 05.30 saya harus segera berangkat kekebun.Tempat kebun karet yang saya sadap lumayan jauh, apalagi harus ditempuh dengan berjalan kaki.


Berjalan kaki ke kebun karet sangat membuat tubuh saya menjadi sehat, terutama jantung.Setelah sampai di kebun karet saya istirahat sebentar sebab kaki –kaki saya letih sekali dan saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menghilangkan rasa letih saya.


Setelah rasa letih saya hilang, maka saya melanjutkan membuka bungkusan nasi yang saya bawa dirumah untuk saya santap, sebagai modal tenaga saya untuk menyadap karet.


Biasanya saya menyadap karet sekitar 300 pohon, kalau kita hitung dengan ukuran jam maka sekitar 3 jam pekerjaan menyadap karet itu selesai.Tetapi itu baru proses pertama, sebab kita akan menunggu dulu sampai getah karet menetes di wadah kecil yang kami sebut mangkok atau sayak.Sayak itu adalah mangkok yang terbuat dari batok kelapa.


Setelah menunggu selama satu jam , maka proses pengambilan getah karetpun saya lakukan dengan mengunakan wadah yang disebut ember.Biasanya saya mengunakan dua ember,setelah kedua ember itu pun penuh maka dua ember tersebut saya pikul mengunakan sebuah kayu.


Nah sahabat pembaca sekalian , pada saat pulang membawa pikulan getah karet ini, saya harus hati – hati sekali sebab di jalan yang saya lalui banyak sekali akar – akar pohon yang melintang ditengah jalan, jadi kalau saya salah dalam melangkah bisa –bisa getah karet saya bisa tumpah.


Karena saya sudah terlatih dalam memikul ember getah karet maka tidak terlalu sulit,dan kalau saya capek saya pun berhenti sebentar di tepi jalan.
Setelah sampai dirumah maka saya pun harus segera mencetak getah karet itu dengan segera sebab, kalau terlambat maka getah karet itu akan membeku di dalam ember.Jadi Kotak segi empat sudah saya sediakan tinggal menuangkan getah karet yang ada didalam ember, setelah itu tuangkan cairan tawas.


Cairan tawas ini berfungsi sebagai bahan untuk membekukan secara cepat getah karet.Jadi sebelum berangkat ke kebun saya menyempatkan dahulu mengisi wadah air yang saya campur dengan bongkahan tawas.


Bongkahan tawas ini juga jangan terlalu banyak kira – kira satu genggam saja, sebab itu sudah  cukup untuk ukuran dari jumlah volume getah karet yang saya panen.


Biasanya satu minggu sekali saya menjual hasil karet tersebut ke pengepul yang ada di desaku.Soal harganya tergantung situsai pasar dan basah keringnya keadaan karet yang kita jual.


Karet yang sudah kering biasanya dihargai lebih tinggi dari harga karet basah,seberapa pun hasil dari penjualan karet saya tetap mensyukurinya saja, dan saya belanjakan untuk kebutuhana sehari – hari.


Selain menyadap karet saya juga bekerja serabutan sebagai pemasang tenda untuk orang yang hajatan.Hari yang kami gunakan untuk memasang tenda biasanya di mulai pada hari rabu.


Bekerja sebagai pemasang tenda memang memiliki tantangan tersendiri, sebab kita harus pandai dalam memanjat dan tidak boleh takut dengan ketinggian.


Pesanan tenda untuk dipasang juga lumayan banyak baik dari dalam desa saya sendiri atau pun dari luar desa.Jumlah pekerja pemasang tenda ini berjumlah empat orang, kalau dua orang terlalu sedikit.


Memasang tenda membutuhkan teknik khusus, jadi kita harus mempelajarinya dari yang sudah ahli, sebab jika kita tidak tahu maka tenda tersebut tidak akan berdiri, berdiri juga tepai rawan roboh.


Disamping itu juga kita harus melatih diri kita untuk tidak takut saat berada diatas tenda, sebab kita harus memasang atap tenda dengan baik dan rapi.Kekompakan dan kesolidan para pekerja merupakan kunci sukses dalam memasang tenda.


Walaupun memasang tenda merupakan pekerjaan yang meletihkan tetapi saya merasa puas sebab sangat banyak pengalaman dan ilmu – ilmu teknik memasang tenda yang saya dapatkan.


Selain bekerja sebagi petani karet dan Pemasang  Tenda, saya juga bekerja serabutan sebagai buruh bangunan.Menjadi buruh bangunan itu membuat saya menjadi pandai dalam membuat adonan semen.Maklum waktu itu saya menjadi kenek untuk mengaduk semen.


Menjadi buruh bangunan saya jalani tidak terlalu lama ,sekitar tiga bulan dan selam itu banyak hal yang saya dapatkan dan pelajari.Diantaranya cara mengaduk semen yang benar, takaran untuk membuat adukan semen, dan lainnya.


Demikianlah sahabat pembaca kisah saya setelah saya berhenti bekerja di perkebunan sawit,semoga kisah saya ini bermanfaat buat para pembaca.Jika ada kesalahan pada Ide dan Penulisan saya mohon maaf.

0 komentar

Posting Komentar