17 September 2020

Tentang Masker

 

Suatu hari saya dibonceng seorang teman pergi ke suatu tempat. Kami melewati jalan raya dan terjebak lampu merah. Saat menunggu lampu merah inilah saya menoleh ke arah kiri. Betapa kagetnya ada seorang bapak-bapak memakai masker yang bergambar mulut yang tertawa lebar. Sejenak saya agak ngeri melihat perpaduan wajah yang tidak simetris dan tawanya yang tidak natural.

Saya membayangkan bagaimana jadinya jika ada masker warna kulit yang senada dengan kulit pemakainya. Namun masker itu polos tanpa gambar apapun. Pasti saya juga ngeri. Rasanya seperti membayangkan Si Muka Rata, hantu tanpa mulut dan hidung yang suka menakuti anak kos di rumah sebelah. Udah ah, horror.

Masker mendadak menjadi perbincangan hangat di mana-mana. Keberadaannya sekarang dianggap benda penting dan menjadi salah satu prioritas yang harus dimiliki semua anggota keluarga. Siapa sih yang gak punya masker sekarang?

Dasar manusia ini makhluk kreatif kayaknya gak puas gitu liat masker yang apa adanya. Penginnya diubah-ubah bentuk biar lebih eye catching. Maka merebaknya segala macam model dan warna masker. Dari yang murah sampai yang mahal.

Anak-anak paling suka masker bergambar superhero. Ibu-ibu cari masker yang berenda atau ada pita cantiknya. Sementara bapak-bapak banyak yang cari model wajah senyum seperti di awal tadi. Kalo saya? Oh, saya orangnya simple. Suka yang biasa aja tanpa banyak ornament. Mungkin karena saya lebih ngeliat fungsinya kali ya daripada modelnya.

Saya sempat ngerasa wow banget saat tahu istri salah seorang pejabat negara memakai masker senilai puluhan juta. Atau seseartis yang pakai masker dengan hiasan berlian. Waduh, jiwa warga julid saya meronta-ronta liat ginian. Haha..Masker sepertinya sudah bukan sekedar tren. Ia telah berubah menjadi gaya hidup dan menjadi penanda status sosial.

Saya ingat awal-awal memakai masker bukanlah satu hal yang menyenangkan. Untuk perempuan yang terbiasa tampil tanpa penutup muka tidak mudah bagi saya untuk beradaptasi dengan kebiasaan yang baru. Rasanya gerah, pengap dan sulit nafas. Memakai masker menjadi siksaan tersendiri selain DL kerja beruntun sampai lupa nengok blog sendiri. Haish!

Namun perlahan saya mulai membiasakan diri dan alhamndulilah kini sudah mulai terbiasa. Bahkan saya menikmati memakai masker sekarang, hehe.. Gimana enggak, saya yang nggak hobi make up amat tertolong dengan adanya masker yang menutupi wajah. Irit dan praktis. Haha..

Ibarat benteng, masker mampu melindungi kita dari kuman, bakteri dan virus penyebab penyakit. Banyak masker sekali pakai yang langsung bisa dibuang namun ada juga yang bisa dipakai berulang kali. Untuk masker yang bisa dipakai berulang kali ini jangan lupa dicuci ya.

Di antara kita mungkin ada yang belum paham bagaimana cara mencuci masker yang benar. Caranya mudah, rendam dulu masker dengan air panas kira-kira suhu 50°C sampai 60°C. Kucek dengan deterjen pelan-pelan untuk mnghindari kain rusak. Usahakan bilas dengan air mengalir. Jemur masker di bawah sinar matahari, ya. Jangan menjemur masker di dalam ruangan karena dikhawatirkan membuat masker lembab dan justru menjadi sarang kuman.

Masker yang sudah dicuci sebaiknya disetrika karena efek panasnya bisa membunuh kuman.  Meski terdengar sepele tapi nyatanya banyak yang nggak paham bagaimana cara merawat masker. Masker yang tidak dibersihkan secara benar bisa menjadi penyebab jerawat lho. Hehe..

Pokoknya jangan pernah lengah untuk selalu menerapkan protocol kesehatan di manapun berada. Jangan sampai menyesal di belakang. Ya iyalah namanya menyesal juga di belakang . kalo di depan namanya pendaftaran. hehe..

Dunia internet menyuguhkan banyak informasi kesehatan dari berbagai sudut pandang. Kadang sampai bingung sendiri karena terlalu overload infonya. Pusing jadinya. Gak semua info yang kita dapatkan itu trushable. Jika kita salah informasi bisa berbahaya kan.

Salah satu tempat informasi yang aku percayai ya Halodoc. Kita nggak hanya dapat informasi kesehatan aja kok. Tapi juga alamat rumah sakit yang dituju, estimasi biaya dan juga hasil pemeriksaan. Gak ribet dan praktis tanpa harus keluar rumah.

Nah, saat browsing-browsing di Halodoc itu saya nemu artikel tentang test PCR. Baca-baca deh. Akhirnya nemu nama-nama rumah sakit apa aja yang menyediakan layanan Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) atau tes untuk mendeteksi keberadaan sel, bakteri ataupun virus dengan akurat. Cuzz aja di PCR Swab Test Surabaya Ini untuk lokasi yang di Surabaya aja ya. Lokasi kota lain ada juga kok. Tinggal browsing aja.

Udah ah pokonya jangan keluar rumah kalo nggak penting banget. Dan kalaupun terpaksa harus keluar jangan lupa masker ya. Eh iya satu lagi. Maskernya jangan lupa di cuci biar gak bau.

 

By SS

 

 

 

 


13 komentar

  1. Pas pertama lihat orang pakai masker yang gambarnya orang ketawa, saya juga kaget mbak. Iya, masker kini banyak variasi bentuk dan juga bahannya. Kalau saya tetap suka yang dari kain biasa aja, yang 10 ribuan

    BalasHapus
  2. Aku heran juga sampai sebegitunya beli masker puluhan juta pun yang bertabur berlian ada. Sejak ada Covid hanya beli masker kain sekali (1/2 lusin) sama tetangga samping rumah. Terus dapat pembagian gratis dari Pemprov DKI 8 biji (2 kali jumlah orang di rumah) Terus dari kantor suami dapat 1 lusin. Udah cukup, yang penting fungsinya sesuai aturan protokol kesehatan, bukan gaya-gayaan, kan

    BalasHapus
  3. Iya ya... banyak yang enggak paham gimana cara merawat masker. Waktu itu pernah ada teteh yang bantu di rumah, dia cerita masker yang dia pakai waktu itu bekas pakai hari sebelumnya. Saya langsung horor banget dengarnya. Akhirnya saya kasih beberapa simpanan masker di rumah buat dia ganti-ganti.

    BalasHapus
  4. Bener mb, sekarang bermumculan masker custom. Mungkin biar ada variasi dan ga monoton gitu-gitu saja ya..asal tetap memperhatikan fungsi dan syarat masker sih , menurut saya gpp...tapi kalau ada tambahan intan berliannya ini saya ga habis pikir ..hihi.

    BalasHapus
  5. Masker emang jd perkap wajib untuk kemana2 and dimana2 ya.
    Makanya perlu bgt stock masker kita dalam jumlah yg cukup. Krn kan per 4 jam sekali harus ganti ya

    BalasHapus
  6. Halodoc ini memang bagus ya mba, saya sudah pakai beberapa kali untuk beli obat. Lumayan cepat prosesnya, dan bisa bayar pakai gopay pula 😂 hehehehehe. Jadi nggak perlu ribet harus ke luar rumah. Eniho, meski saya belum pernah pakai Halodoc untuk urusan PCR, tapi saya rasa dengan adanya fasilitas tersebut, tentu memudahkan kita untuk mencari informasi tambahan yang dibutuhkan related to PCR untuk Corona. Dan dengar-dengar sudah banyak yang menggunakannya 😆

    Semoga semakin banyak hal positif yang bisa dikembangkan team Halodoc ke depannya 😁

    BalasHapus
  7. kok aku jadi ikut bayangin masker yang sama dengan warna kulit dan nggak ada gambarnya sih mba, ngeri juga ya kalau ada.

    BalasHapus
  8. Kalo enggak mau pakai masker yauda di rumah aja kan daripada tidak mengikuti protokol kesehatan. Berhubung saya memang sehari-hari bawa motor maka terbiasa pakai masker. Hanya saja terkadang tidak terbiasa saat mau makan,pasti langsung dilepas semua maskernya. Btw,halodoc juga memudahkan ya untuk konsultasi kesehatan secara online.

    BalasHapus
  9. Di masa pandemi gini banyak baiknya kita terus update dengan kondisi yang ada. Mulai dari self imunity, mengikuti protokol-protokol kesehatan terbaru, dan semua instrumen atau informasi yang mendukung kegiatan-kegiatan menjaga kesehatan. Penting untuk kita, keluarga, dan orang-orang yang berada di dekat kita.

    BalasHapus
  10. Saya masih ga ngerti kenapa masker bergambar setengah wajah banyak disukai. Padahal ga bagus sih. Harus pinter pilih agar pas di wajah

    BalasHapus
  11. Sekarang aku juga sudah mulai terbiasa nih pakai masker. Sekarang malah ada yang kurang kalau keluar rumah ga pakai masker. Karena aku emang sehari-hari nya harus kerja jadi terpaksa keluar rumah

    BalasHapus
  12. Berhubung masker sudah menjadi kebutuhan, kenapa ngga dibikin keren sekalian. Mungkin demikianlah pikiran para pemakai masker. Sedangkan untuk produsen masker ini bisa menjadi ladang bisnis baru. Ayo pakai masker 😷

    BalasHapus
  13. Aku awalnya juga shock waktu liat masker gambar wajah ketawa gitu hahahha.
    Jauh sebelum pandemi aku selalu pake masker, karna tiap hari aku menumpuh jarak yg cukup jauh, PP Jakarta-Bekasi, aku pakai masker biar terhindar dr polusi & debu di jalanan.

    Sekarang semua orang pakai masker, untuk melindungi diri sendiri & orang lain, tp bagi sebagian orang, bener, masker udah kaya jd status sosial, artis2 maskernya berkelimang berlian gitu

    BalasHapus

Mohon ketika berkomentar harap menggunakan Akun Blogger , G+,Anonymous kalau URLnya di isi dengan Nama Blog, Maka dengan berat Hati komentarnya tidak saya Posting, :)
EmoticonEmoticon