14 Agustus 2021

Keadilan Adalah Menyayangi Diri Sesuai Porsi

 Hai, sobatpedia. Sudah lama tidak menyapa. Beberapa waktu lalu saya nonton film drama nih. Yaah ini gara-gara seringnya baca review drama di blog teman-teman. Akhirnya saya coba cari satu yang menarik mumpung dapat voucher nonton gratis nih. Hehe.. Namun hanya beberapa menit  saya langsung memutuskan skip filmnya sesaat setelah tokoh antagonisnya berteriak dan mengatakan dunia ini tidak adil.

Bukan apa-apa cuma nggerasa nggak masuk akal aja ada tokoh yang menderitanya kebangetan. Seperti kayak sinetron Indonesia yang kalo dah jahat, jahatnya minta ampun. Begitu pula sebaliknya kalo dah baik tuh malaikat aja kalah baik. Kayak disakitin tapi masih oke-oke aja gitu. Padahal kalau di dunia nyata pasti saya udah huuuuuh! (ngepalin tangan). Udah ah, saya sedang sayang diri sendiri jadi males mengisi otak dengan hal-hal toxic seperti itu.

Salah satu cara saya menyayangi diri sendiri adalah dengan bersikap adil pada diri sendiri. Tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat otak jadi kepikiran dan sedih yang berkepanjangan. Pernah nggak sih sebenarnya kita tidak suka melakukan sesuatu tapi ternyata tetap saja tidak bisa berhenti melakukannya? Itu artinya kita sedang bersikap tidak adil dengan diri kita sendiri. Saya nonton film nih untuk hiburan aja, biar PPKM yang nggak berkesudahan ini bisa dilewati dengan tanpa bosan.

Udah lupakan dramanya yang gak penting itu. Tapi benarkah dunia ini tidak adil? Kok bisa-bisanya si tokoh antagonis mengatakan dunia ini tidak adil? Padahal dia yang menindas ? Saya jadi teringat Arya Sengkuni, paman para Kurawa dalam cerita Mahabharata. Jika kita lihat latar belakang Sangkuni yang bertransformasi dari seorang pangeran tampan yang berubah menjadi seorang licik, bengis dan mampu menjadi penghancur dari sebuah wangsa mungkin kita akan mendapat pandangan yang berbeda dari sebuah makna keadilan.

keadilan

Bagi orang-orang yang pernah membaca atau menonton kisah wayang Mahabharata pasti sudah tak asing lagi dengan Sengkuni. Mungkin kita jadi gemes trus mikir kok ya bisa-bisanya ada manusia seperti itu. Meski hanya dalam cerita nyatanya masih banyak kita jumpai orang-orang yang rela melakukan segala cara untuk menindas orang lain demi kepentingannya sendiri.

Mungkin sudah banyak yang paham alur cerita Mahabharata, namun bisa jadi masih banyak orang yang tak tahu mengapa sangkuni bisa sejahat itu. Oke, sedikit saya ceritakan. Jadi sebelumnya Sangkuni ini seorang pangeran tampan dari kerajaan Gandara. Ia mempunyai adik bernama Gandari. Sengkuni dan Gandari melalui masa kecil dan dewasa bersama-sama. Seperti layaknya saudara mereka sangat dekat dan saling berbagi apapun bersama.

Suatu hari Gandari dipaksa menikah dengan Destarata, anak tertua kerajaan Hastinapura yang buta. Gandari protes dan menolak keras. Namun titah raja adalah perintah. Sengkuni hendak membela namun gagal sehingga adiknya tetap dinikahkan secara paksa. Sebagai bentuk protesnya, Gandari menutup mata dengan selembar kain selamanya agar menjadi seperti orang buta.

Sementara itu, keluarga Gandari yang lain sejumlah101 orang harus dikurung dalam penjara. Salah satu dari 101 itu adalah Sengkuni. Demi menyelamatkan kehormatan kerajaan Hastinapura maka meski tidak bersalah keluarga kerajaan ini harus rela mendekam di penjara.

Di dalam penjara, penderitaan mereka tak berhenti. Sangkuni dan keluarganya hanya diberi sebutir nasi setiap hari. Mereka berpikir ini hanyalah akal-akalan saja agar penguasa bisa menghabisi mereka secara berlahan. Lalu mereka berunding dan memutuskan salah satu mereka harus bertahan hidup bagaimanapun caranya. Sangkuni, sebagai anak tertua diputuskan harus selamat. Maka Sangkuni terpaksa  memakan jatah nasi 101butir jatah dari saudara dan keluarganya yang dikumpulkan setiap hari.

Satu persatu saudara dan keluarga Sangkuni mati kelaparan. Daging saudaranya yang mati dimakan agar Sangkuni tetap bertahan hidup. Kanibalisme terjadi agar Sangkuni bisa membalas dendam. Tak bisa dibayangkan bagaimana kondisi psikologis Sangkuni saat harus memakan daging saudara dan keluarganya. Wajahnya yang tampan berubah menjadi buruk dan matanya cacat. Mungkin inilah yang membuatnya menjadi manusia paling culas dalam kisah ini.

Singkat cerita Sangkuni bebas dan membalaskan dendam sesuai alur seperti yang kita kenal dalam kisah mainstream selama ini. Rasa dendam timbul karena kebiadaban penguasa Hastinapura yang melampaui batas. Namun pernah gak sih kita berpikir bagaimana jika seandainya Sangkuni pada akhirnya memilih alur cerita yang lain? Bagaimana jika akhirnya ia memilih memaafkan semuanya? Mungkin Mahabaratha tidak akan sama lagi akhir ceritanya.  

Dari cerita di atas sebenarnya siapa sih yang sudah bersikap tidak adil? Sangkuni yang sudah mengadu domba dan mengakibatkan perang genosida? Atau ia hanya korban? Jika kita melihat latar belakang sangkuni melakukan segala tindakan jahatnya mungkin kita akan memberikan pemakluman atas tindakannya. Benarkah?

Satu kisah yang berbeda namun dengan pesan yang sama (meskipun hasil akhirnya berbeda). Nabi Muhammad sangat marah mendengar Sayyidina Hamzah, pamannya dipotong hidung dan telinganya, dadanya dibelah dan jantungnya dikeluarkan untuk kemudian di kunyah majikan Wahsyi. Pantas jika Sang Nabi paling baik hati itu marah dan menolak pertaubatan Wahsyi. Dosa yang tak termaafkan itu akan menimbulkan potensi dendam yang tak berkesudahan.

Kisah ini sangat mengguncang sisi psikologis kaum muslim yang terlibat dalam perang uhud. Wajah Sang Nabi paling lembut pun bisa merah padam hingga akhirnya turunlah Azzumar 53. Yang mengatakan Allah memilih mengampuni dosa-dosa selama seorang hamba mau bertobat. Tak peduli sebesar apapun dosanya. Wajah Sang Nabi berubah, suaranya melembut dan mengatakan dosa Wahsyi sudah dimaafkan. Kebesaran hati telah membuat Wahsyi bertaubat dan menjadi sebenar-benar pengikut ajaran Sang Nabi.

Kehidupan kita mungkin tidak sedramatis film-film atau kisah heroik seperti di atas. Namun seringkali kita mendapatkan perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Lalu dengan entengnya kita mengatakan dunia tidak adil. Eh, benarkah demikian? Jangan-jangan kita sendiri pun sedang tak adil pada diri kita sendiri?

keadilan
Keadilan sendiri bisa dimaknai sebagai sifat obyektif, proporsional dan seimbang dalam melihat sesuatu. Bersikap adil tidak melulu untuk orang lain lho. Untuk diri kita sendiri kita pun seringkali bersikap tidak adil. Menyimpan dendam dan rasa sakit berlebihan sama artinya dengan tidak menyayangi diri sendiri. Karena kesedihan yang berlebihan hanya akan membuat sel-sel kita menjadi sakit dan tidak normal.

Memaafkan sesungguhnya efeknya tidak hanya dirasakan orang lain, tapi juga diri sendiri. Self talk positif adalah bentuk self healing yang membuat realitas hidup kita menjadi lebih baik. Tak ada manusia sempurna. Tapi dengan bersikap adil pada diri sendiri setidaknya kita menjadi manusia yang melampaui batasan.

Begadang, makan makanan junk food berlebihan, tidak merawat diri termasuk malas mandi (hihi) itu juga menjadi indikasi kita sedang berbuat tidak adil pada diri kita. Keadilan adalah saat kita mampu menempatkan diri dengan baik yang dampaknya bisa dirasakan bukan hanya diri sendiri tapi juga orang-orang tercinta di sekitar kita? Lha kalo kamu males mandi lalu baunya nyebar kemana-mana artinya kamu tidak adil pada diri sendiri dan orang di sekitarmu. Eh, sebenarnya makna keadilan itu menurut pendapatmu apa sih?

Comments

Mohon ketika berkomentar harap menggunakan Akun Blogger , G+,Anonymous kalau URLnya di isi dengan Nama Blog, Maka dengan berat Hati komentarnya tidak saya Posting, :)
EmoticonEmoticon